Pesantren Al-Fadlu Wal Fadilah Kendal

Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah Kendal

Profil
Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah merupakan salah satu pesantren salaf yang sudah berusia sekitar 32 tahun, yang telah didirikan oleh KH. Dimyati Rois pada tanggal 10 Muharam  1405 atau bertepatan dengan bulan Juli 1985, yang terletak di Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu. Setelah kurun waktu yang cukup lama, KH. Dimyati Rois menjalani proses panjang yaitu menjadi santri dan belajar bersama sang kyai di beberapa pondok pesantren diantaranya Pondok Pesantren Lirboyo dan APIK Kaliwungu dengan mempelajari bermacam-macam kitab-kitab kuning yang berisi pengetahuan agama.

Kemudian dengan kesungguhan dalam belajar dengan memaksimalkan fungsi kecerdasan yang Allah berikan kepada beliau, maka jadilah beliau sosok yang matang dalam memahami ilmu-ilmu agama. Sehingga akhirnya beliau diambil menantu oleh KH. Ibadullah Irfan, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu sekaligus salah satu Pengasuh Pondok Pesantren APIK Kaliwungu periode 1968 – 1985. Dengan kemampuan, keikhlasan dan atas izin Allah SWT, beliau berhasil mendirikan PONPES ALFADLU yang berlokasi di kampung djagalan desa Kutoharjo Kec. Kaliwungu Kab. Kendal. KH. Dimyati Rois selaku pengasuh ponpes Alfadlu saat itu menunjuk Ust. Bisri Anshori [Alm] indramayu, didampingi Ust. Agus Salim Subang untuk menjadi lurah pondok atau tangan kanan pengasuh dalam mengurusi pesantren. Dalam kepengurusan pondok yang pertama inilah, beliau mencetuskan ponpes Alfadlu dan musyawarah bulanan yang disebut Bahtsul Masa’il. Memasuki tahun keenam dari kepemimpinan pertama, kemudian jabatan lurah pondok digantikan oleh KH. Syathori Rois yang biasa dipanggil pak Was. Karena tanggung jawab yang begitu berat, H. Syathori Rois berinisiatif membentuk organisasi di bawah naungan pondok yang bertugas membantu program pondok pada masing-masing komplek di pondok pesantren Alfadlu. Maka dimasa ini dibentuklah jam’iyyah yang di dalamnya terdapat semacam pendidikan yang mencetak pola pikir maju dan karakter juang dalam menggapai cita cita.


Pengasuh : KH Dimyati Rois

Pendidikan
1.Pendidikan formal meliputi :
SMP dan SMA
2.Pendidikannon formal :
Takhasus dan MP

Fasilitas
1. Masjid
2. Asrama
3. Gedung Sekolah
4. Perpustakaan
5. Gudang
6. Laboratorium Komputer
7. Laboratorium Bahasa
8. Ruang tamu
9. Kopontren
10. Klinik Kesehatan
11. Aula
12. Lapangan

EKstrakurikuler
1. Tahfidz al-Qur’an
2. Salat Dhuha Berjemaah
3. Pengajian Kitab Kuning
4. Musyawarah Ma’hadiyah
5. Bahtsul Ma’sail
6. Diskusi Ilmiah 
7. Hadrah/Rebana
8. Pengembangan Berbagai Olahraga
9. Keterampilan Wirausaha
10. Drumb Band
11. Pengembangan Jurnalistik dan Publish
12. Bahasa Asing
13. Pramuka, PMR, PKS, OSIS
14. Latihan berpidato
15. Diskusi dan Penelitian Ilmiah
16.Olahraga
17.Kaligrafi

Alamat
Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu, Kab. Kendal, Jawa Tengah

Pondok Pesantren al-fadlu
Bagi masyarakat Indonesia siapa yang tak tahu Pondok Pesantren al-Fadlu wal Fadlillah yang dipimin oleh KH. Dimyati Rois selaku salah seorang dari sembilan anggota AHWA NU. Alangkah beruntungnya jika anda ataupun keluarga anda mengenyam dan dididik langsung dibawah pengamatan Abah Yai Dimyat Rois. Oleh karena itu, dalam artikel kali ini akan banyak mengupas seluk-beluk mengenai Pondok Pesantren tersebut.

Profil Abah KH. Dimyati Rois

            KH. Dimyati Rois merupakan profil seorang kyai yang mempunyai ilmu agama tinggi, ulama kharismatik, dan sekaligus sebagai tokoh masyarakat yang sangat disegani oleh umat. Beliau juga merupakan sosok seorang kyai yang sibuk, hampir seluruh waktunya digunakan untuk melayani kepentingan umat dan membimbing serta membekali para santrinya dalam segala bidang, baik keilmuan teoritik maupun keahlian fisik yaitu pertanian dan tambak ikan. Dengan keadaan beliau yang demikian, sebagai salah satu strategi dan sarana beliau dalam membekali serta membimbing para santrinya, sekaligus sebagai media dalam menciptakan komunikasi yang harmonis antara Kyai dengan santri dari kalangan bawah sampai atas yaitu santri biasa sampai santri yang sudah berstatus menjadi ustadz, beliau mengadakan pengajian kitab yang tidak begitu susah dan sulit untuk dibaca oleh seluruh santri baik yang masih menjadi santri biasa lebih-lebih yang telah menjadi ustadz.

Gaya Mengajar Yang Dicintai Santri

            Beliau sangat kondisional dan fleksibel sekali dalam menyampaikan nasihat kepada seluruh santrinya melalui pengajian kitab Riyadhus Shalihin, ketika sampai pada bab apapun biasanya beliau gunakan untuk menyampaikan nasihat-nasihat tertentu. Jadi tiap bab yang beliau kaji tidak hanya monoton menjelaskan isi bab tersebut, misalnya bab taubat maka dalam penjelasannya bisa berisi keutamaan dan anjuran shalat berjamaah serta memperbanyak shalawat disamping istighfar.             Disamping itu, ketika mengaji, Abah Dim (sebutan para santri untuk beliau) selalu menyelingi penjelasan dengan lelucon dan guyonan yang sangat menarik bagi santri. Itulah ciri pengajian beliau, dan ciri yang lain dari pengajian kitab Riyadhus Shalihin ini adalah tidak diketahui target waktu akan selesainya, sehingga tidak ada seorang santri pun yang bisa memastikan kapan pengajian akan selesai atau dalam bahasa pesantrennya, khatam, karena hanya beliaulah yang mengetahui.

Lurah Pondok Masa Pembangunan

          KH. Dimyati Rois selaku pengasuh ponpes Alfadlu saat itu menunjuk Ust. Bisri Anshori [Alm] indramayu, didampingi Ust. Agus Salim Subang untuk menjadi lurah pondok atau tangan kanan pengasuh dalam mengurusi pesantren. Dalam kepengurusan pondok yang pertama inilah, beliau mencetuskan ponpes Alfadlu dan musyawarah bulanan yang disebut Bahtsul Masa’il. Memasuki tahun keenam dari kepemimpinan pertama, kemudian jabatan lurah pondok digantikan oleh KH. Syathori Rois yang biasa dipanggil pak Was. Karena tanggung jawab yang begitu berat, H. Syathori Rois berinisiatif membentuk organisasi di bawah naungan pondok yang bertugas membantu program pondok pada masing-masing komplek di pondok pesantren Alfadlu. Maka dimasa ini dibentuklah jam’iyyah yang di dalamnya terdapat semacam pendidikan yang mencetak pola pikir maju dan karakter juang dalam menggapai cita cita.